Ramadhan, Supertrainer
Oleh: KH. Hidayat Nurwahid
Tidak terasa 11 bulan begitu cepat berlalu. Bulan suci Ramadhan yang penuh berkah telah datang. Kedatangan bulan keberkahan ini hendaknya disambut oleh umat dengan penuh suka dan cita layaknya menyambut tamu agung.
Memang, ada realitas pahit terkait dengan berbagai macam persoalan yang bagaimanapun, harus dijalani, suka atau tidak suka. Kini, dapatkah bulan Ramadhan menghadirkan alternatif solusi, keluar dari berbagai kesulitan dan himpitan yang menyertai hidup rakyat dewasa ini?
Ramadhan, Supertrainer
Bulan suci Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al-Qur’an yang datang sebagai petunjuk, penjelas, dan pembeda bagi manusia (QS. Al-Baqarah [2]:185). Ia merupakan bulan di mana pintu-pintu ibadah, amal, dan taqarrub (mendekatkan diri) kepada Ilahi terbuka lebar, sehingga ruang gerak setan menjadi terbatas. Ramadhan merupakan bulan diwajibkannya berpuasa bagi umat Muslim yang menurut hadis riwayat al-Bukhari dan Muslim adalah tonggak tegaknya agama ini. Kendati demikian, terdapat beberapa klasifikasi Muslim pada bulan ini.
• Pertama; orang yang menanti kehadiran Ramadhan dengan suka cita, bekerja keras menyempurnakan ibadah-ibadah wajib dan sunah dengan meneladani Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam (SAW).
• Kedua; orang yang memasuki bulan Ramadhan dan keluar darinya dengan tanpa perubahan dan tidak bertambah darinya kebajikan apa pun.
• Ketiga; orang yang tidak mengenal ALLAH kecuali pada bulan ini. Ia dengan khusyu melakukan ibadah dan beramal saleh. Namun bila Ramadhan usai, ia akan kembali kepada ‘habitat’-nya semula.
• Keempat, orang yang di bulan ini hanya menahan lapar dan dahaga saja, namun tetap melakukan kemaksiatan.
• Kelima, orang yang menjadikan siang hari Ramadhan bagai malam dengan tidur sepanjang hari dan mengisi malamnya dengan lahwu (kegiatan yang melalaikan).
• Keenam, golongan manusia yang tidak mengenal ALLAH baik di bulan Ramadhan atau di bulan-bulan lainnya sepanjang tahun meskipun ia mengaku sebagai seorang Muslim.
Bila dihayati secara mendalam, bulan Ramadhan bak madrasatun mada al-hayah (madrasah sepanjang hayat) yang berkelanjutan mendidik dan mengedukasi generasi demi generasi setiap tahun. Ramadhan memuat makna-makna iman pada jiwa manusia, mengilhami mereka arti agama yang hanif, dan memantapkan kepribadian Muslim yang hakiki. Ramadhan merupakan sarana yang sangat efektif menghadirkan internalisasi nilai kebajikan guna menghadapi berbagai tantangan yang muncul di tengah masyarakat.
Untuk itu, setiap Muslim hendaknya mengantisipasi kehadiran bulan bertaburan berkah ini dengan mempersiapkan diri, mengoptimalkan daya dan upaya meraih hari esok yang lebih baik (QS. Al-Hasyr [59]: 18). Jika training kaum profesional dewasa ini hanya dilakukan dalam empat hari dan menghasilkan perubahan positif yang luar biasa, maka Ramadhan satu bulan penuh, Muslim di-training oleh SuperTrainer-nya, yaitu ALLAH SWT, Dzat yang Maha segala-galanya. Tentu hasilnya akan juga luar biasa, bila itu dilakukan dengan penuh keseriusan dan mendamba ridha ALLAH.
Bulan Solusi
Kesempatan Ramadhan yang di dalamnya dijanjikan rahmat (karunia), maghfirah (ampunan), dan itqun min al-nar (pembebasan dari api neraka), sesungguhnya momentum ideal menemukan solusi banyak hal bagi umat.
• Pertama; puasa yang benar dapat membangunkan hati Mukmin yang ‘tertidur’ sehingga merasakan muraqabatullah (perasaan diawasi ALLAH). Ketika seorang yang berpuasa men-tadabbur sebagian siangnya sehingga merasakan haus dan lapar, ia akan menahan diri tidak makan dan tidak melakukan kemunkaran hanya karena perintah ALLAH. Kondisi ini membuat seseorang merasakan kehadiran Ilahi yang memantau gerak geriknya.
• Kedua; bulan Ramadhan yang merupakan satu bulan dari 12 bulan dalam setahun, dimuati dengan ketaatan dan taqarrub kepada ALLAH yang dapat memanifestasikan makna ubudiyah kepada-NYA yang paling tinggi. Hal ini tidak mungkin dapat terwujud bila hanya ‘kerja keras’ di depan meja makan saat berbuka dan sahur.
• Ketiga; perut kenyang dalam kehidupan Muslim dapat memandulkan perasaan sehingga hati menjadi keras, menyuburkan sikap liar, dan maksiat kepada ALLAH dan sesama manusia. Dan ini bertentangan dengan karakter Muslim sesungguhnya.
• Keempat; sesungguhnya bagian dari fundamen-fundamen penting yang menyokong kebangkitan umat Islam adalah kasih sayang resiprokal dan solidaritas sosial di antara sesama Muslim. Para the haves akan sulit menyayang orang fakir dengan kasih sayang yang jujur tanpa melewati dan menjalani keperihan dan derita kefakiran serta pahitnya kelaparan itu sendiri. Manfaat yang paling berharga yang dipetik oleh orang kaya adalah kesempatan menjadi ‘orang fakir dan miskin’ tersebut, karena ia mengalami hidup seperti itu secara riil.
Ketika solusi muraqabatullah, ketaatan, taqarrub, kasih sayang, solidaritas, dan kepedulian sosial dapat dikapitalisasi di bulan Ramadhan dan direalisasi di luar bulan ini, sesungguhnya banyak persoalan negeri dan bangsa ini dapat diselesaikan. Di antaranya, persoalan korupsi, pembunuhan, perampokan, dan banyak lagi penyakit-penyakit sosial lain yang terjadi di tengah masyarakat karena terkikisnya nilai-nilai tersebut.
Kendati demikian, bulan Ramadhan –bila dimanfaatkan secara optimal oleh semua unsur– dapat menjadi ajang menumbuhkan empati dan kepedulian sosial yang lenyap tersebut, sehingga yang diutamakan bukan hitungan rasional-matematis saja, tetapi ikut ‘merasakan’ derita dan jeritan hati rakyat. Hal ini bisa dilakukan dengan menunda atau menekan persentase kenaikan seminimal mungkin.
Karena itu perlu bagi umat untuk kembali merenungkan ungkapan terakhir dari surat Al-Baqarah: 183, bahwa yang mewajibkan puasa adalah la’allakum tattaqun dalam kata kerja mudhari yang hendaknya dimaknai agar dapat merealisasikan nilai-nilai muraqabatullah, ketaatan, dan kasih sayang secara terus-menerus, tidak hanya di saat bulan Ramadhan.
Bulan Ramadhan, sekali lagi, sebagai wahana memupuk solidaritas tinggi antarumat manusia yang disempurnakan pada akhir bulan dengan kewajiban membayar zakat fitrah sebagai manifestasi puncak solidaritas sosial tersebut. Sikap dan kepribadian positif, produktif, empatik, dan menghadirkan keputusan win-win solution adalah sosok pribadi yang lulus secara gemilang dari madrasah Ramadhan yang penuh solusi. Wallahu a’lam.
Rumah Berpenghuni Anak-anak Masa Depan. Sebuah Awal yang Baik untuk Mendapatkan Anak-anak Yang Berkualitas
Kamis, 05 Agustus 2010
Selasa, 20 Juli 2010
Tasbih, Takbir, Tahmid
Fakir miskin Muhajirin mengadu pada Rasulullah saw.: Orang-orang kaya telah pergi dengan derajat yang tinggi dan nikmat yang kekal. Mereka salat seperti kami, mereka puasa seperti kami. Mereka bersedekah, tapi kami tidak sanggup, mereka memerdekakan budak, sementara kami tidak mampu.
Rasulullah saw. bersabda: aku ajarkan sesuatu yang dapat membuat kalian mengejar orang-orang yang mendahului kalian dan yang dapat membuat kalian mendahului orang-orang yang sesudah kalian. Tidak ada seorang pun di antara kalian yang lebih utama kecuali ia melakukan seperti yang engkau lakukan.
Bacalah tasbih (subhhaabnallah), takbir (Allahu akbar) dan tahmid (alhamdu lillah) setiap selesai salat sebanyak tiga puluh tiga kali. [Hadis riwayat Abu Hurairah ra.]

Rasullullah saw bersabda —diriwayatkan dalam shahih Bukhari :
Barang siapa membaca: "Tidak ada Tuhan selain Allah semata, Yang tiada sekutu bagi-Nya, kepunyaan-Nyalah segenap kerajaan dan milik-Nyalah segala pujian serta Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu", setiap hari sebanyak seratus kali, maka dia akan mendapat pahala yang sama besarnya dengan membebaskan sepuluh orang budak dan akan dicatat untuknya seratus kebajikan serta dihapus darinya seratus keburukan.
Baginya hal itu adalah satu perlindungan dari setan mulai dari pagi hari sampai sore. Tidak ada seorang pun yang lebih utama dari orang yang melakukan hal itu kecuali orang yang lebih banyak dari itu.
Barang siapa membaca: "Maha Suci Allah dan dengan memuji-Nya", sebanyak seratus kali setiap hari, maka akan terhapuslah semua dosanya sekalipun dosanya itu sebanyak buih di lautan. [Hadis riwayat Abu Hurairah ra.]
"ketika kalian hendak berbaring ke tempat tidur, bacalah takbir sebanyak tiga puluh empat kali, tasbih sebanyak tiga puluh tiga kali serta tahmid sebanyak tiga puluh tiga kali karena hal itu lebih baik bagi kamu berdua daripada seorang pelayan" [Hadis riwayat Ali bin Abu Thalib ra.]
Rasulullah saw. bersabda: aku ajarkan sesuatu yang dapat membuat kalian mengejar orang-orang yang mendahului kalian dan yang dapat membuat kalian mendahului orang-orang yang sesudah kalian. Tidak ada seorang pun di antara kalian yang lebih utama kecuali ia melakukan seperti yang engkau lakukan.
Bacalah tasbih (subhhaabnallah), takbir (Allahu akbar) dan tahmid (alhamdu lillah) setiap selesai salat sebanyak tiga puluh tiga kali. [Hadis riwayat Abu Hurairah ra.]
Rasullullah saw bersabda —diriwayatkan dalam shahih Bukhari :
"Barang siapa yang membaca subhanallah 33 kali, alhamdulillah 33 kali, Allahuakbar 33 kali, di akhiri dengan Lailahaillallah wahdahu laa syarikalah lahul mulku walahul hamdu yuhyi wayumittu wahuwa 'alla kulli syaiin qadir setiap habis shalat, jatuh dosa-dosanya walau sebanyak buih di lautan".Barang siapa yang membaca: "Tidak ada Tuhan selain Allah semata, Yang tiada sekutu bagi-Nya, kepunyaan-Nyalah segenap kerajaan dan milik-Nyalah segala pujian, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu", sebanyak sepuluh kali, maka dia laksana orang yang telah memerdekakan empat orang budak dari putra Ismail [Hadis riwayat Abu Ayyub Al-Anshari ra.]
Barang siapa membaca: "Tidak ada Tuhan selain Allah semata, Yang tiada sekutu bagi-Nya, kepunyaan-Nyalah segenap kerajaan dan milik-Nyalah segala pujian serta Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu", setiap hari sebanyak seratus kali, maka dia akan mendapat pahala yang sama besarnya dengan membebaskan sepuluh orang budak dan akan dicatat untuknya seratus kebajikan serta dihapus darinya seratus keburukan.
Baginya hal itu adalah satu perlindungan dari setan mulai dari pagi hari sampai sore. Tidak ada seorang pun yang lebih utama dari orang yang melakukan hal itu kecuali orang yang lebih banyak dari itu.
Barang siapa membaca: "Maha Suci Allah dan dengan memuji-Nya", sebanyak seratus kali setiap hari, maka akan terhapuslah semua dosanya sekalipun dosanya itu sebanyak buih di lautan. [Hadis riwayat Abu Hurairah ra.]
"ketika kalian hendak berbaring ke tempat tidur, bacalah takbir sebanyak tiga puluh empat kali, tasbih sebanyak tiga puluh tiga kali serta tahmid sebanyak tiga puluh tiga kali karena hal itu lebih baik bagi kamu berdua daripada seorang pelayan" [Hadis riwayat Ali bin Abu Thalib ra.]
Minggu, 18 Juli 2010
Fenomena Materialistis dalam Pandangan Muslim?
Fenomena Materialistis dalam Pandangan Muslim?
Seiring dengan perkembangan zaman dalam era kemajuan IT dan Informasi dewasa ini, pandangan materialistis mau tidak mau berjalan demikian "pesat". Sehingga sebagian kaum muslimin langsung atau tidak langsung, mau atau tidak mau, sengaja atau tidak sengaja terpengaruh dengan kehidupan yang menjerumuskan ini. Sebuah cara pandang mengenai kehidupan yang hanya terbatas pada usaha untuk mendapatkan kenikmatan sesaat, membuat aktifitas hidup yang dijalankan hanya memikirkan masalah bagaimana bisa mendapatkan / menciptakan lapangan pekerjaan, mengembangkan ekonomi, membangun rumah dan gedung, memenuhi kepuasan hidup dan hal-hal lain yang bersifat duniawi, tanpa memikirkan akibat yang dimungkinkan akan muncul / terjadi. "Kebahagiaan hidup hanya bisa diraih dengan harta yang berlimpah".
Seorang suami begitu asyiknya dengan pekerjaan dan usaha yang digelutinya. Terkadang hingga larut malam dikerjakan, sehingga pada saat pulang istri dan anak sudah terlelap dalam mimpinya. Pagi berangkat lagi dengan hanya sekejap berbincang dengan anak dan istri, begitu rutinitas ini berjalan dari hari ke hari, dengan alasan "demi kebahagiaan anak dan istri". Begitu pula ada sebagian perempuan "wanita karier" yang menganggap bahwa emansipasi wanita membutuhkan banyak waktu dan pikiran dari dirinya untuk banyak bekerja dan bekerja dengan alasan membantu "suami atau membahagiakan anak", tanpa mau memperhatikan ataupun mengimbangi seberapakah rasa kangen dan kebutuhan anak-anaknya akan tingkat pertemuan mereka dengan sang orang tua, seberapa inginkah sang anak ngin berbagi cerita dengan orangtua mereka? Alhasil, pandangan materialistis ini mengusik keharmonisan dan ketenangan rumah tangga seorang muslim. Melalaikan tujuan inti penciptaannya, penghambaan diri kepada Allah semata dalam setiap aspek kehidupannya.
Wahai manusia, lupakah Anda bahwa Allah telah memberi pengertian dan peringan tentang sebuah kehidupan kelak di kemudian hari?
Ia bertanya: " bilakah hari kiamat itu?". Maka apabila mata terbelalak ketakutan, dan apabila bulan telah hilang cahayanya, dan matahari dan bulan dikumpulkan, pada hari itu manusia berkata: "kemana tempat lari?", sekali-sekali tidak! tidak ada tempat berlindung! hanya kepada Tuhanmu sajalah pada hari itu tempat kembali. (QS Al-Qiyaamah 6-12).
Seiring dengan perkembangan zaman dalam era kemajuan IT dan Informasi dewasa ini, pandangan materialistis mau tidak mau berjalan demikian "pesat". Sehingga sebagian kaum muslimin langsung atau tidak langsung, mau atau tidak mau, sengaja atau tidak sengaja terpengaruh dengan kehidupan yang menjerumuskan ini. Sebuah cara pandang mengenai kehidupan yang hanya terbatas pada usaha untuk mendapatkan kenikmatan sesaat, membuat aktifitas hidup yang dijalankan hanya memikirkan masalah bagaimana bisa mendapatkan / menciptakan lapangan pekerjaan, mengembangkan ekonomi, membangun rumah dan gedung, memenuhi kepuasan hidup dan hal-hal lain yang bersifat duniawi, tanpa memikirkan akibat yang dimungkinkan akan muncul / terjadi. "Kebahagiaan hidup hanya bisa diraih dengan harta yang berlimpah".
Seorang suami begitu asyiknya dengan pekerjaan dan usaha yang digelutinya. Terkadang hingga larut malam dikerjakan, sehingga pada saat pulang istri dan anak sudah terlelap dalam mimpinya. Pagi berangkat lagi dengan hanya sekejap berbincang dengan anak dan istri, begitu rutinitas ini berjalan dari hari ke hari, dengan alasan "demi kebahagiaan anak dan istri". Begitu pula ada sebagian perempuan "wanita karier" yang menganggap bahwa emansipasi wanita membutuhkan banyak waktu dan pikiran dari dirinya untuk banyak bekerja dan bekerja dengan alasan membantu "suami atau membahagiakan anak", tanpa mau memperhatikan ataupun mengimbangi seberapakah rasa kangen dan kebutuhan anak-anaknya akan tingkat pertemuan mereka dengan sang orang tua, seberapa inginkah sang anak ngin berbagi cerita dengan orangtua mereka? Alhasil, pandangan materialistis ini mengusik keharmonisan dan ketenangan rumah tangga seorang muslim. Melalaikan tujuan inti penciptaannya, penghambaan diri kepada Allah semata dalam setiap aspek kehidupannya.
Wahai manusia, lupakah Anda bahwa Allah telah memberi pengertian dan peringan tentang sebuah kehidupan kelak di kemudian hari?
Ia bertanya: " bilakah hari kiamat itu?". Maka apabila mata terbelalak ketakutan, dan apabila bulan telah hilang cahayanya, dan matahari dan bulan dikumpulkan, pada hari itu manusia berkata: "kemana tempat lari?", sekali-sekali tidak! tidak ada tempat berlindung! hanya kepada Tuhanmu sajalah pada hari itu tempat kembali. (QS Al-Qiyaamah 6-12).
Minggu, 13 Juni 2010
Dzikir dan Do'a
Kolom : Dzikir dan Do'a
Wahai sahabat2, Ingatlah selalu Allah untuk pertama kalinya saat kita mendapatkan kenikmatan-kenikmatan atau menyadari kelebihan2 kita dari orang lain. Untuk itu contohlah ketauladanan Nabi Sulaiman as. yang banyak ingat Allah ketika diberikan kenikmatan-kenikmatan atau kelebihan-kelebihan yang ia sadari dan yakini sebagai pemberian Tuhannya, atau tanda kasih sayang Allah Subhanahu waTa'ala. Dalam Al-qur'an Allah SWT menceritakan kisahnya, Firman-Nya:Maka dia tersenyum dengan tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu. Dan dia berdo'a: "Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri ni'mat Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh". [QS.27:19]
Wahai sahabat2, Ingatlah selalu Allah untuk pertama kalinya saat kita mendapatkan kenikmatan-kenikmatan atau menyadari kelebihan2 kita dari orang lain. Untuk itu contohlah ketauladanan Nabi Sulaiman as. yang banyak ingat Allah ketika diberikan kenikmatan-kenikmatan atau kelebihan-kelebihan yang ia sadari dan yakini sebagai pemberian Tuhannya, atau tanda kasih sayang Allah Subhanahu waTa'ala. Dalam Al-qur'an Allah SWT menceritakan kisahnya, Firman-Nya:Maka dia tersenyum dengan tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu. Dan dia berdo'a: "Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri ni'mat Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh". [QS.27:19]
Selasa, 01 Juni 2010
Mari kita galakkan sikap JUJUR
Mari kita galakkan sikap JUJUR
Apa perbuatan yang mudah namun sulit dalam pelaksanaannya? salah satunya adalah JUJUR. Bahkan untuk diri sendiri pun terkadang sulit untuk jujur. Kata orang, yang paling berbahaya di dunia ini sebenarnya adalah orang munafik, sementara salah satu ciri orang munafik adalah berkata dan berbuat tidak jujur.
Negara yang jujur akan mengutamakan kemakmuran rakyatnya secara adil dan merata di setiap lapisan. Negara yang jujur akan mengedepankan kepentingan rakyat dalam setiap kebijakannya. Negara yang jujur diisi oleh pemimpin, pengusaha, rakyat, organisasi kemasyarakatan yang jujur pula.
Karena Pemimpin yang jujur tidak akan menyalahgunakan pangkat dan jabatannya untuk memanipulasi kebenaran dan kepentingan pribadi atau kelompok. Pengusaha yang jujur akan memenuhi setiap kewajibannya dengan jujur dan tepat waktu. Rakyat yang jujur akan selalu berdisiplin tinggi dan mengutamakan kewajiban daripada hak. LSM yang jujur tidak akan melakukan pembusukan negara ini dari dalam atau menjadi spion negara asing.
Perusahaan yang jujur akan membina hubungan yang baik dengan pemasok, konsumen, karyawan, pemerintah dan masyarakat lingkungan sekitar. Produknya akan dicintai oleh konsumen karena sesuai dengan spesifikasi yang digambarkan, sesuai dengan penawaran, sesuai dengan yang diiklankan. Karyawan merasa nyaman bekerja karena perusahaan dengan jujur memperhatikan kesejahteraan mereka. Untung dibilang untung, rugi dibilang rugi, bukan malah sebaliknya.
Rumah tangga yang jujur dibangun oleh pribadi-pribadi yang jujur pula. Kepala keluarga yang jujur, memberi nafkah yang didapatkannya dengan cara yang halal, ibu rumah tangga yang jujur, membina anggota keluarga dengan semestinya sesuai porsi. Anak-anak yang jujur, akan menuruti apa-apa pesan baik dari orang tuanya.
Apa yang terjadi ketika sebuah negara mulai tidak jujur, ketika pemimpin mulai ramai-ramai berbuat tidak jujur, ketika pengusahanya mulai berbuat curang, ketika rakyatnya mulai melegalkan sogok dan suap, ketika LSM-nya mau jadi kacung pihak luar dan memberikan berita-berita palsu, ketika kepala keluarga mulai selingkuh, ketika ibu rumahtangga mulai tidak adil dan anak-anak mulai suka berkata dan bertindak bohong?
Eh…ngomong-ngomong, Anda sudah jujur menulis di blog? Atau malah membuat blog sudah dengan niat yang tidak jujur? Konon, nge-blog dengan jujur jauh lebih sulit karena tidak ada hukuman atau sanksi selain faktor moral atau etika.
Tidak ada kata terlambat kata orang bijak. Setiap orang pasti pernah khilaf. Setiap orang pasti pernah tergelincir. Tidak ada salahnya mengakui perbuatan tidak jujur yang pernah kita lakukan. Itu akan menunjukkan tingkat kebesaran jiwa kita. Percayalah, pengakuan itu tidak akan menghancurkan reputasi Anda, asal jangan mencari alasan dan menyalahkan orang lain atau kondisi.
Anda ingat kasus Honda Jazz? Ketika pihak Honda mengakui ketidakberesan salah satu komponen mesin pada produknya tersebut, lalu menarik semua produk bermasalah tersebut dari pasar, apakah masyarakat menjauhi Honda? Masyarakat justru nyaman dengan dengan respon dan tanggungjawab dari pihak Honda. Justru dengan kejadian tersebut, Honda telah berhasil memperkokoh total company image-nya di masyarakat. Masih takut untuk jujur?
dikutip dari: jamaahmasdid.com
Minggu, 09 Mei 2010
Hypnotherapy
HIPNOTIS SEDERHANA UNTUK ANAK BALITA DAN ANAK PENDERITA AUTIS
Hipnotis merupakan sebuah teknik untuk “membuka” pikiran bawah sadar, dan selanjutnya memasukkan sugesti atau saran sesuai dengan keperluan.
Teknik hipnotis mempergunakan seni komunikasi verbal dan non verbal yang sangat persuasif, sehingga pada umumnya hipnotis diterapkan kepada mereka yang sudah memahami komunikasi. Oleh karena hipnotis formal hanya efektif untuk anak yang telah berusia minimal sekitar 7-8 tahun. Untuk anak-anak balita sebaiknya dipergunakan hipnotis informal atau komunikasi yang berpola hipnotis.Hipnotis informal merupakan teknik komunikasi yang berpola khusus, sehingga tidak secara otomatis setiap orang dapat menguasainya. Oleh karena itu berikut ini diberikan teknik yang sangat sederhana untuk “memasukkan” sugesti ke anak balita, dimana teknik ini relatif dapat dilakukan oleh setiap orang tua.
Gelombang otak (Brainwave)
Aktivitas pikiran manusia dapat diukur dengan sebuah perangkat yang disebut EEG, yang dapat memonitor gelombang otak seseorang yang terkait dengan aktivitas pikirannya. Terdapat 4 wilayah utama gelombang otak, yaitu : Beta (kondisi aktif), Alpha (kondisi tenang dan fokus), Theta (kondisi sangat tenang), dan Delta (kondisi tidur).
Kondisi hipnotis yang dalam (deep trance) setara dengan kondisi gelombang Theta. Teknik hipnotis adalah seni untuk membawa seseorang dari kondisi aktif (Beta) ke kondisi tenang (Alpha dan Theta).
Kondisi Theta adalah kondisi dimana pikiran sadar tidak aktif, dan pikiran bawah sadar bersifat reseptif, atau mudah menerima saran dan sugesti dari luar. Kondisi Delta adalah kondisi dimana pikiran bawah sadar tidak aktif, tetapi pikiran bawah sadar non reseptif.
Aktifitas gelombang otak menjelang tidur.
Berdasarkan penjelasan di atas, maka ketika manusia menjelang tidur, yang terjadi adalah penurunan gelombang otak yang menyebabkan terjadinya perpindahan area, yaitu dari Beta, turun ke Alpha, kemudian turun lagi ke Theta, dan akhirnya memasuki tidur sempurna yaitu Delta. Hal ini juga berlaku bagi anak-anak.
Berdasarkan prinsip bahwa proses tidur adalah proses perpindahan gelombang otak, maka sugesti dapat dimasukkan ketika gelombang otak diperkirakan sudah mulai menyentuh Theta, tetapi belum memasuki Delta.
Secara praktis, saran atau sugesti untuk anak dapat mulai diucapkan ketika anak mulai tertidur, karena tidur di awal ini belumlah tidur sempurna (Delta) melainkan suatu kondisi dimana pikiran bawah sadar memiliki sifat paling reseptif (Theta). Walaupun kondisi Theta belum merupakan tidur “sempurna” akan tetapi bagi Subyek dalam hal ini anak, tidur ini tetap dirasakan sebagai tidur sempurna, sehingga kemungkinan anak tidak akan mendengarkan sugesti yang diberikan, tetapi sugesti ini justru didengarkan dengan baik oleh pikiran bawah sadar mereka, sehingga berproses kepada perubahan perilaku sesuai dengan yang diinginkan.
Jika tepat ketika anak baru mulai tertidur atau sudah mulai tidak merespon suara luar, maka orang tua dapat mulai mengucapkan kalimat-kalimat saran, lakukan sekitar 15 menit secara berkesinambungan. Hal ini penting, karena jika sugesti sempat terhenti beberapa menit, maka anak akan “meluncur” memasuki gelombang Delta, atau gelombang tidur alamiah.
Fenomena ini sebenarnya sudah sering dialami anak dimanapun juga, yaitu mereka mudah mengingat dongeng menjelang tidur, walaupun mungkin ketika dongeng ini baru dibacakan, mereka sudah tertidur dengan pulas. Hal ini menunjukkan bahwa dongeng tersebut justru didengarkan oleh pikiran bawah sadar, sehingga menjadi ingatan yang sangat kuat.
Teknik ini juga dapat diterapkan kepada anak autis, karena bagi penderita autis tentu tidak dapat diterapkan hipnotis formal, karena fokus menjadi permasalahan utama bagi anak penderita autis.
Untuk mempermudah orang tua, maka ucapan sugesti dapat direkam ke sebuah alat pemutar lagu, misal kaset, MP3 player, dll. Hal ini juga efektif, selama anak tidak terganggu tidurnya dengan posisi headphone yang ditempelkan ke telinganya. Dengan alat bantu ini tentu sugesti dapat dilakukan lebih lama lagi.
Selamat mencoba !
Hipnotis merupakan sebuah teknik untuk “membuka” pikiran bawah sadar, dan selanjutnya memasukkan sugesti atau saran sesuai dengan keperluan.
Teknik hipnotis mempergunakan seni komunikasi verbal dan non verbal yang sangat persuasif, sehingga pada umumnya hipnotis diterapkan kepada mereka yang sudah memahami komunikasi. Oleh karena hipnotis formal hanya efektif untuk anak yang telah berusia minimal sekitar 7-8 tahun. Untuk anak-anak balita sebaiknya dipergunakan hipnotis informal atau komunikasi yang berpola hipnotis.Hipnotis informal merupakan teknik komunikasi yang berpola khusus, sehingga tidak secara otomatis setiap orang dapat menguasainya. Oleh karena itu berikut ini diberikan teknik yang sangat sederhana untuk “memasukkan” sugesti ke anak balita, dimana teknik ini relatif dapat dilakukan oleh setiap orang tua.
Gelombang otak (Brainwave)
Aktivitas pikiran manusia dapat diukur dengan sebuah perangkat yang disebut EEG, yang dapat memonitor gelombang otak seseorang yang terkait dengan aktivitas pikirannya. Terdapat 4 wilayah utama gelombang otak, yaitu : Beta (kondisi aktif), Alpha (kondisi tenang dan fokus), Theta (kondisi sangat tenang), dan Delta (kondisi tidur).
Kondisi hipnotis yang dalam (deep trance) setara dengan kondisi gelombang Theta. Teknik hipnotis adalah seni untuk membawa seseorang dari kondisi aktif (Beta) ke kondisi tenang (Alpha dan Theta).
Kondisi Theta adalah kondisi dimana pikiran sadar tidak aktif, dan pikiran bawah sadar bersifat reseptif, atau mudah menerima saran dan sugesti dari luar. Kondisi Delta adalah kondisi dimana pikiran bawah sadar tidak aktif, tetapi pikiran bawah sadar non reseptif.
Aktifitas gelombang otak menjelang tidur.
Berdasarkan penjelasan di atas, maka ketika manusia menjelang tidur, yang terjadi adalah penurunan gelombang otak yang menyebabkan terjadinya perpindahan area, yaitu dari Beta, turun ke Alpha, kemudian turun lagi ke Theta, dan akhirnya memasuki tidur sempurna yaitu Delta. Hal ini juga berlaku bagi anak-anak.
Berdasarkan prinsip bahwa proses tidur adalah proses perpindahan gelombang otak, maka sugesti dapat dimasukkan ketika gelombang otak diperkirakan sudah mulai menyentuh Theta, tetapi belum memasuki Delta.
Secara praktis, saran atau sugesti untuk anak dapat mulai diucapkan ketika anak mulai tertidur, karena tidur di awal ini belumlah tidur sempurna (Delta) melainkan suatu kondisi dimana pikiran bawah sadar memiliki sifat paling reseptif (Theta). Walaupun kondisi Theta belum merupakan tidur “sempurna” akan tetapi bagi Subyek dalam hal ini anak, tidur ini tetap dirasakan sebagai tidur sempurna, sehingga kemungkinan anak tidak akan mendengarkan sugesti yang diberikan, tetapi sugesti ini justru didengarkan dengan baik oleh pikiran bawah sadar mereka, sehingga berproses kepada perubahan perilaku sesuai dengan yang diinginkan.
Jika tepat ketika anak baru mulai tertidur atau sudah mulai tidak merespon suara luar, maka orang tua dapat mulai mengucapkan kalimat-kalimat saran, lakukan sekitar 15 menit secara berkesinambungan. Hal ini penting, karena jika sugesti sempat terhenti beberapa menit, maka anak akan “meluncur” memasuki gelombang Delta, atau gelombang tidur alamiah.
Fenomena ini sebenarnya sudah sering dialami anak dimanapun juga, yaitu mereka mudah mengingat dongeng menjelang tidur, walaupun mungkin ketika dongeng ini baru dibacakan, mereka sudah tertidur dengan pulas. Hal ini menunjukkan bahwa dongeng tersebut justru didengarkan oleh pikiran bawah sadar, sehingga menjadi ingatan yang sangat kuat.
Teknik ini juga dapat diterapkan kepada anak autis, karena bagi penderita autis tentu tidak dapat diterapkan hipnotis formal, karena fokus menjadi permasalahan utama bagi anak penderita autis.
Untuk mempermudah orang tua, maka ucapan sugesti dapat direkam ke sebuah alat pemutar lagu, misal kaset, MP3 player, dll. Hal ini juga efektif, selama anak tidak terganggu tidurnya dengan posisi headphone yang ditempelkan ke telinganya. Dengan alat bantu ini tentu sugesti dapat dilakukan lebih lama lagi.
Selamat mencoba !
Selasa, 04 Mei 2010
Menggapai Cinta Allah
By: agussyafii
Bahasa sehari-hari mengenal istilah Allah yang di atas, atau Allah yang di langit. Langit sering didefinisikan sebagai batas pandangan mata. Dalam al Quran langit disebut dengan nama sama' atau samawat. Dalam bahasa Arab, sama' mengandung dua artinya, pertama, ma `ala ka, apa yang di atasmu. Dari pengertian ini maka plafon di rumah kita di sebut langit-langit. Ke dua, langit adalah ungkapan tentang sesuatu yang tidak terjangkau oleh akal kita. Jika disebut surga berada di langit artinya akal kita tidak akan mampu melacak keberadaannya. Surga dapat dilacak dengan keyakinan atau iman, bukan dengan rasio. Bahasa sehari-hari juga suka menggunakan istilah langit meski kurang tepat, misalnya menyebut kecantikan luar biasa dari seorang gadis dengan menyebut cantiknya selangit, kekayaan yang sangat banyak disebut kayanya selangit , dan ungkapan semisal lainnya.
Orang beriman meyakini bahwa di balik alam raya ini ada alam langit atau `alam malakut satu tempat yang sangat tinggi dimana blue print alam raya dengan segala kehidupannya itu berada dan dikendalikan, dan Allah bersemayam di `arasy Nya mengendalikan kekuasaanya melalui sistem sunnatulllah, dan Dia mengontrolnya secara detail hingga jatuhnya selembar daunpun berada dalam kontrol Nya.
Di mana letak alam malakut dan dimana `arasy Allah, akal kita tidak mungkin menjangkaunya, karena Allah Maha Tinggi sedangkan kita sebagai hamba memiliki keterbatasan yang sangat banyak. Meski demikian, dengan sifat Rahman dan Rahim Nya Allah memberi infrastruktur kepada kita untuk dapat mendekat kepada Nya. Allah menempatkan sifat ilahiah pada setiap diri kita, apa yang dalam Islam disebut nasut. Allah juga menempatkan cahaya (nur) Nya pada setiap hati (qalb) kita, disebut nuraniyyun (hati nurani) yang memiki kapasitas pandangan batin sebagai lawan dari pandangan mata kepala, oleh Al Quran disebut bashirah (Q/75:14-15).
Jika sifat Allah al Bashir mengandung arti Allah mampu melihat sesuatu secara total tanpa alat bantu, maka bashirah nya kita atau hati nurani kita juga dapat menembus dinding-dinding pembatas, secara internal melihat diri sendiri, introspeksi secara jujur dan hati nurani tidak bisa diajak berdusta, sedangkan secara ekternal, nurani dapat menerobos ke alam malakut bercengkerama dengan ruhaniyyun (malaikat atau arwah manusia) dan bahkan bisa bercengkerama dengan Allah Yang Maha Pengasih lagi Penyayang. D
Dengan sifat Nasut itulah kita pada suatu ketika rindu kepada Allah. Sifat Nasut itu bagaikan api yang selalu menyala ke atas. Orang yang sedang rindu kepada Allah, maka pandangannya selalu ke atas mencari Dia Yang Maha Tinggi di 'alam atas'. Kerinduan kepada ALlah itu memuncak ketika seseorang berhasil bekerja keras mensucikan jiwanya (tazkiyyat an nafs) hingga jiwanya mencapai tingkat nafs al muthma'innah, yakni jiwa yang tenang,
atau ketika Allah berkenan mendekati hamba-hamba-Nya yang dikehendaki Nya sehingga orang itu dalam waktu cepat tersucikan jiwanya (Q/ 4:49)
Di sisi lain, Allah senantiasa merindukan kehadiran kita ke haribaan rahmat Nya. Allah sangat antausias menyongsong hambanya. Jika kita mendekati Allah dengan jalan kaki, maka Allah akan menyongsongnya dengan berlari. Itulah yang menyebabkan ada orang yang sudah sejak kecil menjadi muslim tetapi tak kunjung berkualitas, sementara ada orang yang belum lama menjadi muaallaf tetapi sudah mencapai pencerahan Ilahiah, karena ia disongsong oleh Sang Khaliq. Di satu pihak, kita memang memiliki bakat kerinduan kepada Allah dan untuk itu ia berusaha naik ke atas(taraqqi), di pihak lain, Allah yang merindukan kehadiran kita, berlari turun dari atas(tanazul) menyongsong setiap hambaNya yang berusaha keras mendekat (taqarrub). Ada tiga jalan yang kita bisa tempuh untuk menggapai cinta Allah.
Pertama: Thariqat as Syar`iy, jalan syari'at. Siapa saja yang berusaha keras konsisten mengikuti syari'at Islam, sholatnya, puasanya, berdagangnya, berpolitiknya, dan seluruh aspek hidupnya, maka dijamin ujungnya adalah dar al muqarrabin, wisma khusus untuk orang-orang dekat. Siapa saja yang secara konsisten mengikuti petunjuk Allah Subhanahu Wa Ta'ala dalam hidupnya, yakni mengikuti aturan Allah tentang halal-haram, mengerjakan perintahNya dan menjauhi larangan Nya, maka ia berpeluang untuk mendapatkan Cinta Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
Kedua: Thariqat ahl az zikr, jalannya ahli zikir. Barang siapa yang dalam hidupnya selalu berzikir maka ia akan sampai ke tingkat dekat dengan Allah. Zikir artinya menyebut atau mengingat. Orang awam berzikir dengan mulutnya dalam bentuk menyebut asma Allah atau
kalimah thayyibah, meski hatinya belum tentu ingat Allah. Lihatlah orang yang ikut zikir bersama Arifin Ilham, ia bisa menangis haru interospeksi. Jika zikir itu dipelihara, dikerjakan secara sistemik, maka lama-kelamaan hatinya menjadi dekat dengan Allah yang selalu disebutnya. Sementara orang khawas berzikir dengan hatinya. Keadaan apapun yang dihadapinya dalam hidup, hatinya tetap mengingat Allah. Ada beberapa tingkatan zikir, yaitu zikir jahr, zikir keras-keras, kemudian meningkat ke zikir khofiy, zikir yang tidak mengeluarkan suara tetapi penuh d dalam hati, kemudian tafakkur, berkelana secar ruhaniyyah merenungkan kebesaran Allah, dan yang tertinggi adalah tadabbur, yakni melihat benda atau alampun langsung terbayang Sang Pencipta (tadabbur `alam).
Ketiga: Thariqat mujahidat as Syaqa, memilih jalan yang sulit. Bagi penganut jalan ini, hidup secara biasa itu berarti tidak tahu diri dan kurang bersyukur nikmat Allah. Ia paksakan dirinya mengerjakan yang sunnah karena yang wajib sudah lewatinya dengan riang gembira, ia haramkan untuk dirinya apa yang subhat. Ia lebih suka tidur di kasur yang sederhana, meski memiliki kamar yang mewah, ia memakan makanan yang tidak enak meski tersedia makanan lezat, ia pergi ke masjid dengan jalan kaki meski punya mobil, semua yang sulit menjadi pilihannya untuk menggapai cinta Allah. Baginya menempuh kesulitan dalam perjalanan mendekat kepada Allah itu satu kenikmatan, dan baginya pula, menggunakan fasilitas kemudahan dalam perjalanan rasanya malu dihadapan Allah. Jalan yang tidak mudah, tidak semua orang sanggup memilih jalan sulit untuk menggapai cinta Allah.
Langganan:
Postingan (Atom)




