Minggu, 18 Juli 2010

Fenomena Materialistis dalam Pandangan Muslim?

Fenomena Materialistis dalam Pandangan Muslim?

Seiring dengan perkembangan zaman dalam era kemajuan IT dan Informasi dewasa ini, pandangan materialistis mau tidak mau berjalan demikian "pesat". Sehingga sebagian kaum muslimin langsung atau tidak langsung, mau atau tidak mau, sengaja atau tidak sengaja terpengaruh dengan kehidupan yang menjerumuskan ini. Sebuah cara pandang mengenai kehidupan yang hanya terbatas pada usaha untuk mendapatkan kenikmatan sesaat, membuat aktifitas hidup yang dijalankan hanya memikirkan masalah bagaimana bisa mendapatkan / menciptakan lapangan pekerjaan, mengembangkan ekonomi, membangun rumah dan gedung, memenuhi kepuasan hidup dan hal-hal lain yang bersifat duniawi, tanpa memikirkan akibat yang dimungkinkan akan muncul / terjadi. "Kebahagiaan hidup hanya bisa diraih dengan harta yang berlimpah".

Seorang suami begitu asyiknya dengan pekerjaan dan usaha yang digelutinya. Terkadang hingga larut malam dikerjakan, sehingga pada saat pulang istri dan anak sudah terlelap dalam mimpinya. Pagi berangkat lagi dengan hanya sekejap berbincang dengan anak dan istri, begitu rutinitas ini berjalan dari hari ke hari, dengan alasan "demi kebahagiaan anak dan istri". Begitu pula ada sebagian perempuan "wanita karier" yang menganggap bahwa emansipasi wanita membutuhkan banyak waktu dan pikiran dari dirinya untuk banyak bekerja dan bekerja dengan alasan membantu "suami atau membahagiakan anak", tanpa mau memperhatikan ataupun mengimbangi seberapakah rasa kangen dan kebutuhan anak-anaknya akan tingkat pertemuan mereka dengan sang orang tua, seberapa inginkah sang anak ngin berbagi cerita dengan orangtua mereka? Alhasil, pandangan materialistis ini mengusik keharmonisan dan ketenangan rumah tangga seorang muslim. Melalaikan tujuan inti penciptaannya, penghambaan diri kepada Allah semata dalam setiap aspek kehidupannya.
Wahai manusia, lupakah Anda bahwa Allah telah memberi pengertian dan peringan tentang sebuah kehidupan kelak di kemudian hari?
Ia bertanya: " bilakah hari kiamat itu?". Maka apabila mata terbelalak ketakutan, dan apabila bulan telah hilang cahayanya, dan matahari dan bulan dikumpulkan, pada hari itu manusia berkata: "kemana tempat lari?", sekali-sekali tidak! tidak ada tempat berlindung! hanya kepada Tuhanmu sajalah pada hari itu tempat kembali. (QS Al-Qiyaamah 6-12).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar