Selasa, 20 Juli 2010

Tasbih, Takbir, Tahmid

Fakir miskin Muhajirin mengadu pada Rasulullah saw.: Orang-orang kaya telah pergi dengan derajat yang tinggi dan nikmat yang kekal. Mereka salat seperti kami, mereka puasa seperti kami. Mereka bersedekah, tapi kami tidak sanggup, mereka memerdekakan budak, sementara kami tidak mampu.
Rasulullah saw. bersabda: aku ajarkan sesuatu yang dapat membuat kalian mengejar orang-orang yang mendahului kalian dan yang dapat membuat kalian mendahului orang-orang yang sesudah kalian. Tidak ada seorang pun di antara kalian yang lebih utama kecuali ia melakukan seperti yang engkau lakukan.
Bacalah tasbih (subhhaabnallah), takbir (Allahu akbar) dan tahmid (alhamdu lillah) setiap selesai salat sebanyak tiga puluh tiga kali. [Hadis riwayat Abu Hurairah ra.]



Rasullullah saw bersabda —diriwayatkan dalam shahih Bukhari :
"Barang siapa yang membaca subhanallah 33 kali, alhamdulillah 33 kali, Allahuakbar 33 kali, di akhiri dengan Lailahaillallah wahdahu laa syarikalah lahul mulku walahul hamdu yuhyi wayumittu wahuwa 'alla kulli syaiin qadir setiap habis shalat, jatuh dosa-dosanya walau sebanyak buih di lautan".
Barang siapa yang membaca: "Tidak ada Tuhan selain Allah semata, Yang tiada sekutu bagi-Nya, kepunyaan-Nyalah segenap kerajaan dan milik-Nyalah segala pujian, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu", sebanyak sepuluh kali, maka dia laksana orang yang telah memerdekakan empat orang budak dari putra Ismail [Hadis riwayat Abu Ayyub Al-Anshari ra.]

Barang siapa membaca: "Tidak ada Tuhan selain Allah semata, Yang tiada sekutu bagi-Nya, kepunyaan-Nyalah segenap kerajaan dan milik-Nyalah segala pujian serta Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu", setiap hari sebanyak seratus kali, maka dia akan mendapat pahala yang sama besarnya dengan membebaskan sepuluh orang budak dan akan dicatat untuknya seratus kebajikan serta dihapus darinya seratus keburukan.
Baginya hal itu adalah satu perlindungan dari setan mulai dari pagi hari sampai sore. Tidak ada seorang pun yang lebih utama dari orang yang melakukan hal itu kecuali orang yang lebih banyak dari itu.
Barang siapa membaca: "Maha Suci Allah dan dengan memuji-Nya", sebanyak seratus kali setiap hari, maka akan terhapuslah semua dosanya sekalipun dosanya itu sebanyak buih di lautan. [Hadis riwayat Abu Hurairah ra.]

"ketika kalian hendak berbaring ke tempat tidur, bacalah takbir sebanyak tiga puluh empat kali, tasbih sebanyak tiga puluh tiga kali serta tahmid sebanyak tiga puluh tiga kali karena hal itu lebih baik bagi kamu berdua daripada seorang pelayan" [Hadis riwayat Ali bin Abu Thalib ra.]

Minggu, 18 Juli 2010

Fenomena Materialistis dalam Pandangan Muslim?

Fenomena Materialistis dalam Pandangan Muslim?

Seiring dengan perkembangan zaman dalam era kemajuan IT dan Informasi dewasa ini, pandangan materialistis mau tidak mau berjalan demikian "pesat". Sehingga sebagian kaum muslimin langsung atau tidak langsung, mau atau tidak mau, sengaja atau tidak sengaja terpengaruh dengan kehidupan yang menjerumuskan ini. Sebuah cara pandang mengenai kehidupan yang hanya terbatas pada usaha untuk mendapatkan kenikmatan sesaat, membuat aktifitas hidup yang dijalankan hanya memikirkan masalah bagaimana bisa mendapatkan / menciptakan lapangan pekerjaan, mengembangkan ekonomi, membangun rumah dan gedung, memenuhi kepuasan hidup dan hal-hal lain yang bersifat duniawi, tanpa memikirkan akibat yang dimungkinkan akan muncul / terjadi. "Kebahagiaan hidup hanya bisa diraih dengan harta yang berlimpah".

Seorang suami begitu asyiknya dengan pekerjaan dan usaha yang digelutinya. Terkadang hingga larut malam dikerjakan, sehingga pada saat pulang istri dan anak sudah terlelap dalam mimpinya. Pagi berangkat lagi dengan hanya sekejap berbincang dengan anak dan istri, begitu rutinitas ini berjalan dari hari ke hari, dengan alasan "demi kebahagiaan anak dan istri". Begitu pula ada sebagian perempuan "wanita karier" yang menganggap bahwa emansipasi wanita membutuhkan banyak waktu dan pikiran dari dirinya untuk banyak bekerja dan bekerja dengan alasan membantu "suami atau membahagiakan anak", tanpa mau memperhatikan ataupun mengimbangi seberapakah rasa kangen dan kebutuhan anak-anaknya akan tingkat pertemuan mereka dengan sang orang tua, seberapa inginkah sang anak ngin berbagi cerita dengan orangtua mereka? Alhasil, pandangan materialistis ini mengusik keharmonisan dan ketenangan rumah tangga seorang muslim. Melalaikan tujuan inti penciptaannya, penghambaan diri kepada Allah semata dalam setiap aspek kehidupannya.
Wahai manusia, lupakah Anda bahwa Allah telah memberi pengertian dan peringan tentang sebuah kehidupan kelak di kemudian hari?
Ia bertanya: " bilakah hari kiamat itu?". Maka apabila mata terbelalak ketakutan, dan apabila bulan telah hilang cahayanya, dan matahari dan bulan dikumpulkan, pada hari itu manusia berkata: "kemana tempat lari?", sekali-sekali tidak! tidak ada tempat berlindung! hanya kepada Tuhanmu sajalah pada hari itu tempat kembali. (QS Al-Qiyaamah 6-12).